Tanpa Kepastian AS-Iran, Kurs Dolar Bergeming
Gencatan senjata AS-Iran masih berlangsung, tetapi belum ada kejelasan mengenai peluang perundingan lebih lanjut dari kedua pihak. Pasar pun mencari katalis lain dari kebijakan bank sentral mayor.
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak relatif datar di sekitar level 98.40 pada perdagangan hari Rabu (22/April). Di tengah berlanjutnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, perhatian pelaku pasar mulai bergeser ke faktor lain, terutama pada prospek kebijakan moneter dari Federal Reserve serta bank sentral lainnya.
![]()
Rencana perundingan antara delegasi AS dan Iran yang semula dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, akhirnya tidak terealisasi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan belum ada kepastian terkait kehadiran pihaknya. Hal ini menyusul blokade di Selat Hormuz yang disebutnya sebagai "tindakan keterlaluan" oleh AS. Di saat yang sama, Wakil Presiden AS JD Vance juga membatalkan kunjungannya ke Pakistan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Presiden AS Donald Trump justru memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu. Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai kelanjutan ataupun mekanisme perundingan berikutnya antara kedua negara.
Kondisi yang serba abu-abu ini membuat pelaku pasar memilih bersikap wait and see. Pergerakan pasangan mata uang mayor pun cenderung terbatas dalam kisaran yang sama sejak awal pekan, termasuk AUD/USD, GBP/USD, USD/CAD, dan USD/CHF.
Dominic Bunning, kepala strategi forex G10 di Nomura, menilai bahwa tingkat keyakinan pasar saat ini masih rendah. Meski demikian, ia melihat keinginan AS maupun Iran untuk kembali terlibat dalam konflik terbuka relatif kecil, sehingga ada sentimen positif meski terbatas.
Fokus Beralih Pada Kebijakan Bank Sentral dan Berita Lainnya
Sementara itu, faktor domestik mulai memberikan pengaruh lebih besar pada beberapa pasangan mata uang. EUR/USD tertekan di area 1.1730 seiring menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh ECB. Sebaliknya, NZD/USD menguat hingga menyentuh level tertinggi dalam tiga hari terakhir setelah data inflasi dirilis lebih tinggi dari perkiraan. Untuk USD/JPY, pergerakannya masih fluktuatif menjelang pertemuan kebijakan Bank of Japan pekan depan.
Dari sisi Amerika Serikat, perhatian juga tertuju pada pernyataan Kevin Warsh dalam sidang konfirmasi Senat sebagai kandidat Ketua The Fed. Ia menegaskan pentingnya independensi bank sentral serta menyatakan tidak memiliki komitmen apa pun kepada Presiden Trump terkait penurunan suku bunga.
Nada pernyataan Warsh yang cenderung lebih hawkish dibandingkan dengan ekspektasi pasar turut memperkuat prospek suku bunga The Fed dan menopang Dolar AS. Hal ini tercermin dalam Fed Funds Futures yang sekarang menunjukkan probabilitas sebesar 58.5% bahwa suku bunga akan tetap bertahan hingga April tahun depan; berbeda dari proyeksi sebelumnya yang masih membuka peluang adanya satu kali pemangkasan suku bunga.