Dolar Naik Terbatas Usai Data NFP Lampaui Ekspektasi
Dolar AS bergerak relatif stabil setelah mendapat dukungan dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. Selain itu, pasar juga mencermati tensi geopolitik di Asia Barat yang kembali meningkat.
Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di sekitar level 98.00 pada sesi Asia hari Senin (11 Mei), naik 0.29 persen saja dari level pembukaan. Permintaan terhadap Greenback sebagai aset safe haven tetap terjaga menyusul publikasi data Nonfarm Payroll akhir pekan lalu dan potensi eskalasi konflik AS-Iran.
![]()
Laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis hari Jumat menunjukkan penambahan payroll sebesar 115,000 pada April 2026. Angka tersebut hampir dua kali lebih tinggi daripada estimasi pasar, sehingga memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Sementara itu, tingkat pengangguran AS tetap di 4.3%, sejalan dengan ekspektasi pasar.
Ketegangan geopolitik turut menopang posisi dolar AS. Presiden Donald Trump menolak tanggapan Iran atas proposal perdamaian yang diajukan Washington. Penolakan tersebut memupus optimisme pasar mengenai kemungkinan berakhirnya konflik di Asia Barat maupun pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Akibat perkembangan tersebut, harga minyak mentah Brent kembali menanjak hingga mencapai USD109 per barel.
“Saya tidak menyukainya — SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA,” tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya tanpa menjelaskan rincian lebih lanjut.
Di tengah situasi tersebut, mayoritas pasangan mata uang utama masih bergerak dalam kisaran terbatas yang terbentuk sejak pertengahan pekan lalu. Pelaku pasar kini menanti respons lanjutan dari Iran sembari memonitor agenda kunjungan Trump ke Beijing pada 13-15 Mei 2026. Dengan kata lain, fokus utama pasar global masih tertuju pada perkembangan geopolitik.
"Dolar tetap melemah sepanjang minggu lalu, karena pasar sangat memperhatikan kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap, dengan potensi terobosan yang mungkin bertepatan dengan pertemuan Trump-Xi," ungkap analis strategi Barclays. "Namun demikian, data ekonomi AS masih solid dan kondisi pasar tenaga kerja tampaknya mulai stabil dalam beberapa rilis terakhir."