Harga Emas Menguat Terbatas di Tengah Mandeknya Diplomasi AS-Iran
Kenaikan harga emas masih penuh kehati-hatian menjelang publikasi data inflasi Amerika Serikat. Pelaku pasar tetap mencermati risiko memanasnya konflik di kawasan Asia Barat.
Harga emas mencatat penguatan tipis pada hari Senin (11/Mei). Emas spot naik sekitar 0.37% ke level $4731.02, sementara harga emas ANTAM terkoreksi Rp20,000 menjadi Rp2.819 juta. Perhatian investor tertuju pada perkembangan negosiasi antara AS dan Iran sekaligus data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini.
![]()
Laporan terbaru menyebutkan bahwa Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan pihak AS. Padahal, Iran disebut tidak meminta konsesi khusus dari Washington. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqei, mengatakan bahwa Iran hanya menuntut penghentian perang dagang serta aksi pembajakan terhadap kapal-kapal Iran.
Mandeknya proses diplomasi di Asia Barat kembali memicu kekhawatiran pasar terkait kemungkinan blokade Selat Hormuz yang berlangsung lebih lama. Meski ketidakpastian geopolitik masih tinggi, harga emas tetap memperoleh dukungan dari aksi bargain hunting menjelang rilis data inflasi AS pada Rabu mendatang.
Menanggapi pergerakan harga emas, Jim Wyckoff, analis pasar dari American Gold Exchange berkomentar, "Terlihat ada aksi beli pada harga murah dan penyesuaian posisi investor menjelang data inflasi AS minggu ini."
Walaupun tengah menguat, performa emas secara keseluruhan masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Sejak pecahnya perang pada akhir Februari, harga emas telah melemah sekitar 11% akibat tekanan dari lonjakan harga minyak. Kenaikan harga minyak mentah dinilai berdampak negatif terhadap emas karena dapat memicu inflasi dan mempertahankan suku bunga tinggi.
"Risiko inflasi masih menjadi tekanan utama bagi pasar secara keseluruhan, terutama karena upaya perdamaian belum menemukan titik terang setelah AS dan Iran saling menolak proposal masing-masing," kata Han Tan, kepala analis pasar di Bybit.
Data inflasi AS periode April yang akan diumumkan pekan ini diperkirakan belum akan memberikan sentimen positif bagi emas. Bloomberg memperkirakan inflasi utama mencapai 3.8%, sementara inflasi inti—di luar komponen makanan dan energi—diprediksi meningkat menjadi 2.8%.