Sinyal ECB Ubah Arah Pasar, Kurs EUR/USD Stagnan di Puncak
Pergerakan Euro terhadap Dolar AS kehilangan momentum setelah pernyataan terbaru dari pimpinan bank sentral Eropa meredam ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Dalam hampir dua pekan terakhir, pasangan EUR/USD mencatat penguatan signifikan. Namun, laju tersebut mulai terhenti di sekitar level 1.1800 pada perdagangan hari Rabu (15 April). Kondisi ini dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung serta menurunnya keyakinan pasar terhadap peluang pengetatan kebijakan ECB.
![]()
Kawasan Zona Euro menjadi salah satu yang paling terdampak oleh lonjakan harga energi global. Ketergantungan tinggi terhadap impor membuat wilayah ini kesulitan memenuhi kebutuhan energi, terutama di tengah terganggunya pasokan dari Rusia dan kawasan Timur Tengah akibat konflik geopolitik. Dampaknya, biaya energi terus meningkat dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi serta prospek pertumbuhan ekonomi.
Situasi tersebut sempat memunculkan spekulasi bahwa ECB akan menaikkan suku bunga sebanyak satu hingga tiga kali sebelum akhir tahun. Apalagi, dalam pertemuan sebelumnya, proyeksi inflasi untuk 2026 dan 2027 direvisi naik. Namun, Christine Lagarde memberikan pernyataan yang cenderung menahan ekspektasi tersebut.
Presiden ECB tersebut mengungkapkan bahwa perekonomian Zona Euro memang telah bergerak menjauh dari skenario dasar ECB terkait konflik Iran, tetapi belum cukup kuat untuk mendukung kebijakan kenaikan suku bunga. Ia menegaskan bahwa kondisi saat ini berada di antara skenario dasar dan skenario yang lebih buruk.
Komentar tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar. Penguatan euro di berbagai pasangan mata uang mulai terbatas. EUR/USD gagal menembus level 1.1800 dalam beberapa sesi terakhir, EUR/JPY tertahan di sekitar 187.50 sejak awal pekan, sementara EUR/GBP tetap berada di bawah 0.8700.
Menurut analis dari Natixis, penurunan harga minyak yang dibarengi dengan pernyataan Lagarde telah menekan ekspektasi terhadap kebijakan pengetatan ECB. Saat ini, pelaku pasar hanya memperkirakan sekitar dua kali kenaikan suku bunga sepanjang tahun.
Sejumlah pengamat menilai bahwa apabila ketegangan antara AS dan Iran mereda, fokus pasar kemungkinan akan kembali ke faktor domestik. Meski demikian, baik dalam skenario eskalasi maupun de-eskalasi konflik, euro dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menguat terhadap poundsterling dibandingkan dengan dolar AS.
Pound sendiri tengah menghadapi berbagai tekanan, mulai dari kenaikan tingkat pengangguran, tingginya biaya energi, beban utang pemerintah, hingga dinamika politik domestik. Inggris juga akan menggelar pemilu lokal pada bulan Mei, yang oleh pihak oposisi dianggap sebagai penentu prospek kepemimpinan Perdana Menteri Keir Starmer.
Analis Sarah Ying menambahkan bahwa Pound masih sangat rentan terhadap peningkatan tensi geopolitik. Ia menilai posisi beli pada pasangan EUR/GBP tetap menarik, dengan potensi pengujian kembali level 0.8742 dalam waktu dekat.