Powell Bertahan, Dolar AS Menguat Usai FOMC
Dolar AS naik setelah FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi pasar. Selain itu, Jerome Powell menegaskan akan tetap berada di Federal Reserve meski sudah tidak menjadi ketua.
Indeks Dolar AS (DXY) menguat hingga menyentuh level 99.05 usai pengumuman Federal Open Market Committee (FOMC) pada dini hari Kamis (30/April). Pelaku pasar merespons positif keputusan bank sentral yang menahan suku bunga, sekaligus sikap Jerome Powell yang memilih tetap menjadi bagian dari institusi tersebut.
![]()
Dalam rapat tersebut, FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3.50%–3.75% melalui voting 8-4. Selisih suara ini menjadi yang paling tipis sejak 1992, mencerminkan meningkatnya perbedaan pandangan di internal komite menjelang pergantian kepemimpinan.
Masa jabatan Powell sebagai Ketua Federal Reserve dijadwalkan berakhir pada 15 Mei 2026 dan akan diisi oleh Kevin Warsh. Meski demikian, ia menegaskan akan tetap menjabat sebagai anggota dewan gubernur untuk waktu yang belum ditentukan.
Powell menyatakan bahwa situasi dalam beberapa bulan terakhir mendorongnya untuk tetap bertahan. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga independensi bank sentral dari tekanan politik, karena hal tersebut krusial bagi efektivitas kebijakan moneter dan kepercayaan publik.
Sementara itu, Senat AS diperkirakan segera mengesahkan penunjukan Warsh. Sebelumnya, pasar sempat menilai Warsh cenderung dovish karena kedekatannya dengan Presiden Donald Trump. Namun, asumsi tersebut dibantah langsung oleh Warsh dalam sidang konfirmasi pekan lalu.
Mayoritas pelaku pasar pun mulai mengikis ekspektasi terhadap penurunan suku bunga The Fed di bawah kepemimpinan Warsh, terlebih jika Powell masih memiliki pengaruh dalam FOMC. Ekspektasi ini turut memperkuat posisi dolar AS.
Masih Didukung Aksi Penghindaran Risiko
Penguatan Greenback juga didorong oleh sentimen risk-off seiring lonjakan harga minyak mentah. Harga Brent kembali mendekati level tertinggi sepanjang masa di kisaran $120 per barel, dipicu oleh ketegangan AS-Iran serta dinamika internal OPEC.
Menurut Axel Merk, kenaikan harga minyak cenderung mendorong imbal hasil (yield) naik tanpa diikuti perubahan signifikan pada ekspektasi inflasi jangka panjang. Kondisi ini memperketat situasi keuangan dan meningkatkan suku bunga riil, yang pada akhirnya memberikan dukungan tambahan bagi dolar AS sekaligus menekan mata uang lainnya.