USD/JPY Melemah Tajam Usai Peringatan Keras Menkeu Jepang
Dolar AS melemah signifikan dalam pair USD/JPY menyusul pernyataan tegas dari Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama. Insiden ini memicu aksi ambil untung setelah pelemahan yen pekan lalu.
Sejak pembukaan perdagangan Senin hingga sesi Asia Selasa (23/Desember), pasangan USD/JPY turun drastis hingga sempat menyentuh area 156.00. Fluktuasi ini turut menyeret pair Yen lainnya, dengan AUD/JPY, EUR/JPY, dan GBP/JPY masing-masing terkoreksi sekitar 0.5% hanya dalam hitungan jam.
![]()
Yen sempat memperoleh dukungan dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Jepang pada akhir November hingga awal Desember. Namun, sentimen tersebut memudar setelah keputusan bank sentral Jepang pada Jumat lalu, yang kembali menegaskan sikap kebijakan moneter akomodatif. Kondisi ini mendorong pelaku pasar kembali melepas Yen, seiring pandangan bahwa suku bunga masih akan bertahan di level rendah dan arah kebijakan fiskal pemerintah rentan menimbulkan ketidakpastian.
Tekanan jual Yen kemudian dibalas dengan peringatan keras dari Satsuki Katayama, Menteri Keuangan Jepang. Ia menyoroti volatilitas nilai tukar yang meningkat tajam dan menilai pelemahan Yen saat ini tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Jepang siap mengambil langkah tegas, merujuk pada komitmen yang tertuang dalam pernyataan bersama para menteri keuangan Jepang dan Amerika Serikat.
Katayama menekankan bahwa pemerintah memiliki keleluasaan untuk merespons pergerakan nilai tukar yang dinilai berlebihan. Meski enggan merinci batasan teknis yang dimaksud, ia menekankan otoritas selalu berada dalam posisi siap untuk melakukan intervensi bila diperlukan.
Pernyataan tersebut langsung ditafsirkan pasar sebagai sinyal peringatan menjelang potensi intervensi, sehingga mendorong aksi ambil untung terhadap posisi Short Yen. Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan pemerintah Jepang akan mulai turun tangan jika USD/JPY bergerak mendekati kisaran 158.00 hingga 160.00.
Dalam kesempatan yang sama, Katayama turut menyinggung kondisi fiskal Jepang. Ia mengakui bahwa keuangan pemerintah berpotensi tertekan dalam jangka pendek akibat paket stimulus besar yang digulirkan Perdana Menteri Takaichi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kendati demikian, Katayama optimistis tekanan tersebut hanya bersifat sementara. Ia memperkirakan belanja pemerintah akan mengangkat aktivitas ekonomi, mendorong investasi, serta meningkatkan penerimaan pajak dalam satu hingga dua tahun mendatang.