Timur Tengah Terus Memanas, Dolar AS Tembus Level 100

Tatiana Park 13 Mar 2026 9 views

Penguatan Dolar AS berlanjut seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah risiko krisis energi akibat konflik Iran. Potensi lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga juga menopang reli Dolar.

Indeks Dolar AS berhasil menembus level psikologis penting 100.00 untuk pertama kalinya sejak sejak 25 November 2025 dalam perdagangan hari ini (13 Maret). Penguatan Greenback terutama didorong oleh perannya sebagai aset safe haven di tengah krisis energi dunia, serta meningkatnya ekspektasi inflasi dan suku bunga global.

Dolar AS naik

 

Kekhawatiran Krisis Energi

Dolar AS berpotensi mencatat penguatan dua pekan berturut-turut. Sejak pecahnya perang Iran pada akhir Februari lalu, mata uang AS tersebut telah naik lebih dari 2%.

Konflik di Timur Tengah biasanya hanya memicu sentimen risk-off dalam waktu singkat. Namun, blokade Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran baru terkait gangguan pasokan energi global.

Ketidakpastian tersebut mendorong investor untuk melepas saham dan berbagai aset berisiko lainnya. Mata uang dari negara-negara importir energi juga tertekan karena lonjakan harga minyak dapat memperburuk neraca perdagangan mereka. Di antara yang terdampak adalah Euro dan Yen Jepang.

Pasangan EUR/USD turun ke level terendah sejak Agustus 2025, sementara USD/JPY melonjak ke posisi tertinggi sejak Juli 2024. Di sisi lain, dolar terus menguat karena menjadi safe haven favorit di tengah krisis energi global.

 

Ancaman Kenaikan Inflasi

Para analis menilai lonjakan harga minyak mentah dapat meningkatkan ekspektasi inflasi sekaligus menekan prospek pertumbuhan ekonomi global.

Jika tekanan inflasi meningkat akibat krisis energi, bank-bank sentral di berbagai negara berpotensi menaikkan suku bunga untuk mengendalikannya. Kondisi tersebut berisiko membebani perekonomian karena dunia harus menghadapi kombinasi biaya energi yang tinggi dan suku bunga yang lebih mahal.

Wolf von Rotberg, ahli strategi ekuitas di Bank J. Safra Sarasin, memperingatkan bahwa jika konflik berlarut-larut tanpa kemajuan berarti, harga minyak akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama sehingga dampaknya terhadap inflasi serta pertumbuhan ekonomi akan semakin terasa.

Pelaku pasar kini menantikan rapat kebijakan dari lima bank sentral utama pekan depan. Investor akan mencermati bagaimana para pembuat kebijakan menilai dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arah suku bunga.

Sejauh ini, pejabat dari Reserve Bank of Australia telah membuka kemungkinan kenaikan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi. Sementara itu, bank sentral besar lainnya seperti Federal Reserve, Bank of Japan, European Central Bank, dan Bank of England belum memberikan sinyal kebijakan yang jelas.

Kembali Ke List Berita

Berita Broker Terpopuler

lihat semua