Pasar Waspadai Inflasi Energi, Dolar Berbalik Menguat

Tatiana Park 11 Mar 2026 6 views

Dolar AS menguat setelah data inflasi AS naik sesuai perkiraan pasar. Meskipun tidak ada yang mengejutkan, ada risiko yang mengkhawatirkan dari lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

Indeks Dolar AS (DXY) kembali mencatat kenaikan sekitar 0.2% pada awal sesi perdagangan New York, Rabu (11 Maret). Data inflasi terbaru Amerika Serikat sesuai dengan perkiraan pasar, tetapi lonjakan harga minyak mentah yang terjadi belakangan ini memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat dalam waktu dekat.

Dolar menguat

Laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa inflasi konsumen pada Februari 2026 bergerak sejalan dengan estimasi analis. Indeks harga konsumen (CPI) secara keseluruhan naik 0.3% secara bulanan dan 2.4% secara tahunan. Sementara itu, inflasi inti—yang tidak memasukkan komponen energi dan pangan—meningkat 0.2% secara bulanan dan 2.5% secara tahunan.

Namun, sejumlah ekonom menilai data tersebut belum mencerminkan dampak kenaikan harga bahan bakar yang terjadi setelah pecahnya konflik Iran pada akhir bulan lalu. Dengan tingkat inflasi yang masih berada di atas target bank sentral, lonjakan harga energi berpotensi menambah tekanan inflasi dan mengurangi peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve.

Kepala ekonom Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menilai bahwa tren inflasi sebenarnya sempat menunjukkan perbaikan sebelum situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memicu tekanan harga. Ia mengatakan bahwa sektor energi yang sebelumnya diperkirakan memberikan efek deflasi kini justru berpotensi menjadi sumber inflasi baru. Selain itu, harga pangan juga dikhawatirkan ikut terdorong naik karena gangguan di pasar pupuk global.

Kekhawatiran tersebut tidak lepas dari fakta bahwa bahan bakar fosil merupakan komponen penting dalam produksi berbagai jenis pupuk modern, terutama pupuk berbasis nitrogen. Analisis terbaru dari UN Trade and Development (UNCTAD) juga menyoroti pentingnya Selat Hormuz dalam perdagangan pupuk dunia. Jalur pelayaran tersebut mengalirkan sekitar sepertiga perdagangan pupuk global melalui laut, sehingga gangguan di kawasan itu berpotensi mengancam pasokan pupuk, terutama bagi negara-negara berkembang.

Di tengah meningkatnya ketegangan dan risiko krisis energi, International Energy Agency (IEA) berencana merekomendasikan pelepasan cadangan minyak global hingga sekitar 400 juta barel. Beberapa negara seperti Jepang dan Jerman telah menyatakan kesiapan untuk mulai melepas sebagian cadangan strategis mereka. Namun hingga kini, belum ada kepastian mengenai langkah serupa dari Amerika Serikat.

Kembali Ke List Berita

Berita Broker Terpopuler

lihat semua