Kekalahan Mengejutkan Partai Buruh Goyahkan Pound Hari Ini
Nilai tukar Pound Sterling berada di bawah tekanan setelah hasil pemilihan sela di Inggris memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap stabilitas politik pemerintahan saat ini.
Dalam perdagangan Kamis (27/Februari), Pound melemah signifikan menyusul hasil pemilihan sela di Gorton dan Denton. Pasangan GBP/USD terperosok menembus area 1.3500, sementara EUR/GBP melonjak hingga melampaui level 0.8760.
![]()
Kejutan datang dari kekalahan telak Partai Buruh. Partai Hijau berhasil keluar sebagai pemenang, disusul Partai Reformasi di posisi kedua, sedangkan Partai Buruh hanya menempati urutan ketiga. Hasil ini bertolak belakang dengan ekspektasi pasar, mengingat Partai Buruh selama ini dikenal kuat di kedua daerah tersebut.
Kekalahan ini langsung memicu spekulasi baru mengenai masa depan kepemimpinan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Sejumlah media menyoroti kemungkinan meningkatnya tekanan internal di tubuh Partai Buruh agar Starmer mundur dan digantikan oleh figur lain yang dinilai lebih mampu menarik dukungan publik.
Bagi pasar keuangan, potensi pergantian kepemimpinan merupakan risiko politik yang signifikan. Apabila muncul perdana menteri baru, arah kebijakan fiskal Inggris justru menjadi lebih ekspansif demi meraih popularitas, sehingga berpotensi memperburuk kondisi utang negara. Kekhawatiran inilah yang menekan nilai pound.
Dominic Bunning, ahli strategi valuta asing di Nomura, menilai kekalahan Partai Buruh di basis pemilih tradisionalnya sebagai sinyal negatif bagi mata uang Inggris. Menurutnya, kondisi tersebut meningkatkan peluang perubahan kepemimpinan ke arah yang kurang ramah pasar, sebuah risiko yang selama ini belum sepenuhnya diperhitungkan dalam pergerakan GBP.
Pandangan serupa disampaikan oleh Barclays. Bank tersebut menilai posisi perdana menteri saat ini semakin rapuh. Meski belum pasti apakah Starmer akan tersingkir, kekalahan besar dalam pemilihan sela dinilai tidak bisa dianggap sepele. Barclays juga menyoroti menguatnya pengaruh sayap kiri moderat di Partai Buruh, yang menurut mereka dapat menjustifikasi premi risiko fiskal lebih tinggi pada Pound Sterling.
Selain faktor politik, tekanan terhadap Pound diperparah oleh data ekonomi yang mengecewakan. Lembaga riset GfK melaporkan indeks kepercayaan konsumen Inggris turun secara tak terduga pada Februari 2026, seiring meningkatnya tingkat pengangguran.