Harga Minyak Meledak Akibat Konflik Iran, Dolar AS Menguat
Kenaikan tajam harga minyak mentah memicu gejolak pasar pada awal pekan. Dolar AS ikut menguat setelah pelaku pasar melakukan aksi jual besar-besaran pada berbagai aset berisiko.
Indeks Dolar AS (DXY) melonjak sekitar 0.7% hingga mendekati level 99.50 dalam perdagangan sesi Asia pada Senin (9 Maret). Kenaikan ini terjadi di tengah kepanikan pasar akibat lonjakan harga minyak dan komoditas energi lainnya, meskipun situasi pasar kembali stabil seiring meredanya tekanan jual.
![]()
Harga Minyak Melonjak Tajam
Perkembangan terbaru dalam konflik Iran selama akhir pekan meningkatkan kekhawatiran bahwa ketegangan di kawasan Asia Barat dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan. Kondisi tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak mentah serta berbagai komoditas energi lain.
Pemerintah Iran menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang ketiga, menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang wafat setelah serangan udara gabungan AS-Israel pada akhir Februari. Penunjukan ini dipandang sebagai sinyal bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali politik di Teheran.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menunjukkan sikap kritis terhadap Mojtaba Khamenei. Bahkan sebelum pengangkatan tersebut, Trump sempat menyatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan mampu bertahan tanpa restu Washington.
Kombinasi perkembangan geopolitik ini membuat harga minyak mentah Brent melonjak dari 93.57 dolar AS pada penutupan pekan lalu menjadi 102.36 dolar AS saat pasar dibuka. Harga kemudian terus melesat hingga sempat menyentuh 120.08 dolar AS per barel—level tertinggi sejak April 2022—sebelum terkoreksi ke sekitar 112 dolar AS per barel saat laporan ini ditulis.
Permintaan Safe Haven Menguat
Konflik Iran yang telah berlangsung lebih dari sepekan juga berdampak langsung pada pasokan energi global. Sekitar seperlima suplai minyak mentah dan gas alam dunia dilaporkan terganggu akibat situasi tersebut.
Menteri Energi Qatar bahkan memperingatkan dalam wawancara dengan Financial Times bahwa seluruh produsen energi di kawasan Teluk berpotensi menghentikan ekspor dalam beberapa minggu mendatang. Jika skenario ini terjadi, harga minyak dunia dapat melonjak hingga mencapai 150 dolar AS per barel.
Lonjakan harga energi seperti ini berpotensi memicu tekanan inflasi global, yang pada gilirannya dapat membuat bank sentral di berbagai negara menunda rencana pemangkasan suku bunga. Dalam kondisi ekstrem, tekanan tersebut juga dapat memperburuk stabilitas ekonomi sejumlah negara.
Wilayah yang sangat bergantung pada impor energi—seperti Inggris, kawasan Zona Euro, dan Jepang—diperkirakan menghadapi dampak paling berat. Mata uang di wilayah tersebut melemah tajam pada awal pekan. Pasangan EUR/USD dan GBP/USD sempat turun hampir satu persen, sementara USD/JPY kembali mendekati level resistance utama di sekitar 159.00.
Dolar AS memperoleh keuntungan dari tiga faktor utama: statusnya sebagai aset safe haven global, dominasi dalam transaksi energi internasional, serta posisi Amerika Serikat sebagai salah satu eksportir energi utama dunia.
Ray Attrill, kepala strategi valuta asing di National Australia Bank, mengatakan bahwa Dolar AS didukung oleh kombinasi perannya sebagai aset lindung nilai tradisional dan posisi unik AS sebagai eksportir energi bersih; hal ini sangat kontras dengan sebagian besar negara Eropa yang bergantung pada impor energi.
Pasar Dilanda Aksi Jual Massal
Saat laporan ini ditulis, Indeks Dolar AS telah terkoreksi kembali ke kisaran 99.30. Gejolak pasar pada pagi hari sebagian besar dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada berbagai aset, mulai dari saham, obligasi, hingga emas di tengah meningkatnya kepanikan investor.
Sebagian pelaku pasar khawatir konflik berkepanjangan akan mengganggu stabilitas ekonomi global, sementara yang lain memilih mencairkan aset untuk meningkatkan likuiditas atau mengamankan keuntungan.
Ke depan, dampak ekonomi dari lonjakan harga minyak akan sangat bergantung pada seberapa lama harga energi tetap berada di level tinggi. Jika konflik berlangsung lama dan inflasi kembali meningkat, risiko perlambatan ekonomi global dapat kembali mencuat. Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa aset-aset yang dianggap aman, terutama emas, mulai pulih dengan cepat setelah tekanan jual awal.
Deepali Bhargava, kepala riset regional Asia-Pasifik di ING, mengatakan bahwa faktor utama yang harus diperhatikan adalah seberapa tinggi harga energi dapat naik dan berapa lama level tersebut bertahan.
Menurutnya, konflik yang berkepanjangan ditambah pelemahan mata uang di berbagai negara berpotensi memicu tekanan inflasi yang lebih luas di tingkat global.