GBP/USD Jatuh Terguncang Krisis Gas Alam
Kenaikan drastis harga gas alam akibat ketegangan Timur Tengah memberi pukulan telak bagi Pound Sterling dan memperumit prospek kebijakan moneter Inggris.
Nilai tukar Pound Sterling melemah dengan pasangan GBP/USD jatuh menembus 1.3400 pada sesi Asia hari Selasa (3 Maret). Pelemahan ini terjadi seiring melonjaknya harga gas alam yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
![]()
Serangan drone dari Iran memaksa Qatar menghentikan produksi LNG di Ras Laffan—fasilitas ekspor gas alam cair terbesar di dunia yang memasok sekitar 20% kebutuhan global. Gangguan tersebut memicu lonjakan harga gas alam Eropa lebih dari 50%, menembus level tertinggi dalam lebih dari setahun.
Di pasar domestik Inggris, kontrak berjangka gas alam untuk pengiriman April melonjak hingga £121 per therm, tertinggi sejak Desember 2022. Lonjakan biaya energi ini menjadi pukulan berat bagi dunia usaha dan konsumen, sekaligus memperbesar tekanan politik terhadap Perdana Menteri Keir Starmer.
Situasi ini juga menambah beban bagi Bank of England (BoE). Bank sentral tersebut kini menghadapi dilema antara mendukung pertumbuhan ekonomi atau menjaga inflasi tetap terkendali di tengah tekanan biaya energi yang meningkat.
Kombinasi faktor tersebut mendorong sebagian pelaku pasar untuk melepas kepemilikan Sterling. Meski demikian, analis menilai arah selanjutnya masih sangat bergantung pada perkembangan konflik.
Dalam skenario terburuk, perang yang berkepanjangan berpotensi mempertahankan harga gas pada level tinggi dan mendorong inflasi Inggris naik hingga sekitar 3.1% pada Januari 2027—semakin menjauh dari target 2% BoE. Ironisnya, tekanan inflasi yang lebih tinggi dapat menghambat rencana pemangkasan suku bunga lanjutan dan justru memberikan dukungan terhadap Pound dalam jangka menengah.
Sebaliknya, jika lonjakan harga energi hanya bersifat sementara, dampaknya terhadap inflasi bisa terbatas. Dalam kondisi tersebut, BoE masih memiliki ruang untuk melanjutkan siklus pelonggaran kebijakan, meskipun mungkin dengan jeda.
Robert Wood, kepala ekonom Inggris di Pantheon Macroeconomics, menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampak penuh konflik terhadap harga energi. Ia menyebut bahwa dampaknya terhadap inflasi Inggris kemungkinan kecil jika harga energi bisa kembali turun lebih cepat dari ekspektasi pasar. Namun, ia juga memperingatkan bahwa tekanan harga energi tetap berpotensi membuat Komite Kebijakan Moneter (MPC) BoE menunda pemangkasan suku bunga tahun ini.
Pergerakan GBP/USD dalam waktu dekat akan sangat ditentukan oleh dinamika harga energi dan arah konflik geopolitik yang masih berkembang.