Dolar AS Menguat, Pasar Waspadai Eskalasi di Selat Hormuz

Tatiana Park 05 May 2026 20 views

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu ketidakpastian di pasar global. Analis mengekspektasikan dolar AS tetap bertahan kuat selama blokade di Selat Hormuz belum mereda.

Indeks Dolar AS (DXY) naik hingga kisaran 98.50 pada sesi perdagangan Asia hari Selasa (5 Mei). Penguatan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik geopolitik yang berlarut-larut.

Dolar menguat

Laporan dari kantor berita Fars menyebutkan bahwa kapal perang AS dihantam dua rudal di dekat Jask, Teluk Oman, setelah mengabaikan peringatan dari Iran saat hendak memasuki Selat Hormuz.

Namun, pihak Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah klaim tersebut. Mereka justru menyatakan bahwa kapal perusak rudal berpemandu milik Angkatan Laut AS telah berhasil memasuki wilayah Teluk untuk menembus blokade Iran. Dua kapal dagang AS juga diklaim telah melintasi Selat Hormuz.

Terlepas dari perbedaan versi tersebut, pelaku pasar melihat adanya risiko eskalasi konflik yang lebih luas. Kondisi ini mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

"Selama blokade masih berlangsung, ketidakpastian akan terus menahan pergerakan pasar, dan itu menopang stabilitas dolar," ujar Juan Perez, Direktur Trading di Monex USA. Ia juga menambahkan bahwa sentimen risiko baru akan pulih jika tercapai kesepakatan damai, dan hal inilah yang berpotensi menekan dolar.

Dalam perdagangan intraday, dolar AS tampak menguat terhadap mayoritas mata uang utama. Isu geopolitik saat ini bahkan menggeser perhatian pasar dari faktor-faktor ekonomi lainnya.

USD/JPY masih bergerak stabil setelah menemukan support di area 157.00. Pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik sekaligus kemungkinan intervensi lanjutan dari otoritas Jepang, yang sebelumnya diduga melakukan aksi besar-besaran untuk menopang yen.

Sementara itu, EUR/USD turun ke level 1.1685. Euro yang sempat menguat pasca pengumuman bank sentral Eropa kini kembali melemah. Selain kekhawatiran terhadap krisis energi, pelaku pasar juga mencermati potensi meningkatnya tensi dagang. Presiden AS Donald Trump dikabarkan mengancam akan menaikkan tarif impor otomotif dari Uni Eropa hingga 25%.

"Tarif otomotif memang berdampak negatif, tetapi bukan faktor utama saat ini," ujar Amanda Sundström, analis strategi forex dari SEB. "Fokus pasar jelas tertuju pada situasi di Timur Tengah. Jika ketegangan mereda, hal itu akan menjadi sentimen positif bagi euro."

Kembali Ke List Berita

Berita Broker Terpopuler

lihat semua