Dolar AS dan Minyak Turun Usai Klaim Diplomasi Trump
Pernyataan Donald Trump mengenai potensi perundingan dengan Iran sempat mengguncang pasar global. Dolar AS dan harga minyak melemah tajam, meski respons tersebut tidak bertahan lama setelah muncul bantahan dari pihak Teheran.
Dalam sesi New York sebelumnya, Dolar AS dan harga minyak mentah mengalami penurunan setelah Trump mengklaim adanya percakapan yang produktif antara AS dan Iran. Namun memasuki perdagangan sesi Asia hari ini (24/Maret), Indeks Dolar AS (DXY) kembali bergerak ke kisaran 99.30, sementara minyak Brent bertahan di atas level 100 dolar per barel.
![]()
Klaim Negosiasi Picu Reaksi Pasar
Trump menyatakan telah memerintahkan penundaan serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari, menyusul kemajuan dalam komunikasi antara kedua negara. Ia menyebut diskusi tersebut sebagai langkah menuju penyelesaian konflik secara menyeluruh di Timur Tengah.
Pernyataan ini juga disertai harapan bahwa blokade Selat Hormuz dapat segera dibuka jika kesepakatan tercapai. Sentimen tersebut langsung memicu aksi jual pada minyak mentah dan Dolar AS, sekaligus mendorong penguatan pasar saham global.
Namun, optimisme tidak berlangsung lama. Sejumlah pejabat Iran dengan cepat membantah adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan yang berlangsung. Ia bahkan menuding pernyataan Trump sebagai upaya memengaruhi pasar keuangan dan energi.
Senada, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa meski ada pesan dari negara pihak ketiga terkait keinginan AS untuk berunding, posisi Iran tidak berubah—termasuk mengenai Selat Hormuz dan syarat penghentian konflik.
Harapan Muncul, Tapi Risiko Tetap Ada
Reaksi awal pasar cukup signifikan. Harga minyak sempat anjlok lebih dari 10% dalam waktu singkat, sementara pair-pair mayor mengalami koreksi. Namun, volatilitas mereda setelah bantahan dari Iran meredam ekspektasi berlebihan.
Sejumlah analis menilai bahwa pasar saat ini cenderung sensitif terhadap kabar positif sekecil apa pun, mengingat kelelahan terhadap sentimen risk-off sejak konflik memanas pada akhir Februari.
Steven Englander dari Standard Chartered menilai bahwa rincian pernyataan Trump cukup spesifik sehingga sulit diabaikan sepenuhnya oleh pasar. Menurutnya, pelaku pasar kemungkinan mengasumsikan adanya bentuk komunikasi tertentu, meskipun belum tentu mengarah pada kesepakatan konkret.
Sementara itu, Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan adanya deeskalasi. Ia menilai jika ketegangan berlanjut, guncangan di sektor energi berpotensi berkembang menjadi tekanan fiskal yang lebih luas.
Meski demikian, ia juga mencatat bahwa pasar mulai melihat peluang menuju kondisi yang lebih stabil meskipun ketidakpastian tetap tinggi.