Cara Menggunakan Pivot Point dalam Analisis Teknikal Forex

Tradesmart 15 Dec 2025 17 views

Ada banyak cara untuk berdagang menggunakan Pivot Points dan ini dapat diterapkan ketika harga mengalami bounce atau breakout. Di bawah ini adalah penjelasan.

Trader profesional dan mereka yang sudah berpengalaman sering menggunakan Pivot Points untuk menentukan level Support dan Resistance yang potensial. Mengapa level Pivot ini begitu populer? Jawabannya adalah karena mereka relatif lebih objektif dibandingkan dengan indikator leading lainnya.

 

Ikhtisar tentang Pivot Points

Pada dasarnya, Pivot Point adalah level harga yang dapat berfungsi sebagai level Support dan Resistance dalam periode waktu tertentu.

Berikut adalah contoh tentang Pivot Points dan level SR (Support - Resistance) pada grafik EUR/USD dengan timeframe 1 jam (H1). PP adalah Pivot Point, R1 adalah level Resistance pertama, R2 adalah level Resistance kedua, S1 adalah level Support pertama, S2 adalah level Support kedua, dan level-level berikutnya.

Pivot Points 1

Untuk menentukan level Support dan Resistance, pertama-tama kita harus menentukan Pivot Point. Pivot Point ditentukan berdasarkan harga high, low, dan close dari hari sebelumnya. Biasanya, trader menggunakan harga penutupan (close) sesi New York sebagai acuan, yaitu pada pukul 4:00 sore EST (sekitar pukul 4:00 pagi waktu Vietnam)

Berikut adalah rumus untuk menghitung Pivot Point:

Pivot Point (PP) = (High + Low + Close) / 3

Level Resistance pertama (R1) = (2 x PP) – Low
Level Support pertama (S1) = (2 x PP) – High
Level R2 = PP + (High – Low)
Level S2 = PP – (High – Low)
Level R3 = High + 2 x (PP – Low)
Level S3 = Low – 2 x (High – PP)

Di dalam Pivot Points juga terdapat level Intermediate (tengah), yaitu level yang terletak di antara PP dan S1, S1 dan S2, S2 dan S3, serta antara PP dan R1, R1 dan R2, R2 dan R3.

Pivot Points 2

Level Intermediate adalah level acuan yang sering digunakan ketika jarak dari PP - S1 atau dari S1 - S2 dan level-level berikutnya cukup besar. Pergerakan harga sering kali bounce (memantul) di level intermediate ini (seperti yang diilustrasikan dalam contoh di atas). Ketika trader menggunakan Pivot Points, level Intermediate sering dianggap sebagai mini Support (level support kecil) atau mini Resistance (level resistance kecil).

Penting untuk dicatat bahwa Anda tidak perlu menghitung PP atau level Support dan Resistance secara manual setiap kali melakukan trading, karena saat ini hampir semua platform trading memiliki indikator Daily Pivot yang sudah terintegrasi, termasuk platform MetaTrader yang populer. Namun, Anda harus memastikan bahwa waktu penutupan (closing time) berdasarkan waktu acuan sesuai dengan waktu penutupan pasar yang digunakan oleh broker Anda.

 

Menggunakan Pivot Points untuk Bounce Trading

Salah satu cara sederhana untuk trading dengan Pivot Points adalah dengan menganggap level Pivot ini sebagai level Support dan Resistance. Biasanya, harga akan menguji level ini sebelum bounce (memantul) atau break (menembus). Dalam praktiknya, harga dapat menguji level ini beberapa kali. Karena mereka berfungsi sebagai Support atau Resistance (SR), karakteristik dasar dari SR juga berlaku. Semakin banyak kali harga tidak dapat menembus suatu level, maka level Support atau Resistance tersebut semakin kuat.

Dengan menggunakan Pivot Points di platform trading, peluang entry muncul ketika harga berada di salah satu level Pivot ini, terlepas dari apakah Anda memperkirakan pergerakan harga akan bounce atau break. Contoh berikut adalah sebuah order buy di atas level Support, dengan asumsi bahwa ketika harga tidak dapat menembus Support, sebuah bounce akan terjadi.

Pivot Points 3

Level target profit dapat ditempatkan di PP (Pivot Point) atau R1 (level Resistance pertama), atau di antara level ini tergantung pada rasio Risk/Reward (risiko/keuntungan) yang diinginkan. Jika Anda adalah seorang Trader aggressive (Trader berisiko), maka level Stop Loss dapat ditempatkan beberapa pip di bawah S1 (Support pertama), untuk menciptakan rasio Risk/Reward yang tinggi. Namun, Trader conservative (Trader berhati-hati) akan menempatkan level Stop Loss di bawah S2 (Support kedua) dengan asumsi bahwa jika harga menembus S1 tetapi tidak menembus S2, maka masih ada kemungkinan untuk bounce.

Yang terjadi selanjutnya adalah: pergerakan harga telah bounce di level S1 dan PP.

Pivot Points 4

Untuk meningkatkan kepercayaan diri saat masuk posisi, gunakan juga indikator teknikal sebagai alat konfirmasi untuk menilai kekuatan level SR, karena Pivot Points pada dasarnya adalah level Support dan Resistance. Selain itu, Anda dapat mengamati pola candlestick dan setup Price Action yang terbentuk.

 

Menggunakan Pivot Points untuk Breakout Trading

Bounce trading dengan Pivot Points tidak selalu efektif, bahkan ketika level SR cukup kuat. Terutama pada saat pembukaan sesi Eropa atau New York, pergerakan harga sering kali menembus level Pivot. Ini juga terjadi ketika sentimen pasar kuat, misalnya ketika data ekonomi penting diumumkan. Berikut adalah contoh pergerakan harga yang menembus level Pivot:

Pivot Points 5

Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa sentimen pasar sedang kuat dengan harga pembukaan berada di atas PP. Dalam pergerakan berikutnya, harga menembus R1, R2, dan R3 sebelum menembus R3 sekali lagi dan bounce di R2. Bagi trader aggressive (trader berisiko), kondisi pasar seperti ini pasti sangat menguntungkan.

Penting untuk dicatat bahwa: sebelum benar-benar menembus suatu level Resistance, harga biasanya melakukan satu kali retest di level tersebut. Amati retest di tanda bulat dalam gambar di atas. Sekali lagi, untuk meningkatkan kepercayaan diri, Anda dapat mengamati setup Price Action dan pola candlestick yang muncul, serta menggunakan indikator teknikal untuk konfirmasi lebih lanjut.

 

Menggunakan Pivot Points untuk Stop Loss dan Target Profit

Jika Anda cenderung trading aggressive (berisiko) dan menggunakan metode breakout, bagian yang agak sulit mungkin adalah menentukan level Stop Loss atau level risiko (Risk). Dalam metode trading konservatif yang menggunakan level Pivot (metode bounce), risiko biasanya ditempatkan beberapa pip di atas atau di bawah level pivot sebelumnya. Namun, jika Anda menggunakan metode breakout, menentukan level Stop Loss seperti itu bisa memakan banyak pip, atau dengan kata lain menciptakan level risiko yang terlalu besar.

Pivot Points 6

Dalam contoh di atas, jika Anda masuk posisi buy (entry buy) di sekitar area breakout A, maka Stop Loss dapat ditempatkan di level Intermediate (tengah) atau di level terendah dari bar (batang) candlestick sebelumnya. Jika Anda terbiasa mengamati pola candlestick atau setup Price Action, Anda dapat menentukan Stop Loss berdasarkan pola bar yang muncul. Trader aggressive biasanya berusaha menjaga risiko sekecil mungkin untuk mencapai Risk/Reward Ratio (rasio risiko/keuntungan) yang wajar.

Untuk menentukan level target (take profit), Anda dapat menggunakan cara yang sama seperti dalam bounce trading, yaitu menempatkan target di level Pivot berikutnya. Anda dapat menempatkan target di 2 atau 3 level Pivot di atas level entry untuk mencapai Risk/Reward yang besar. Namun, pasar jarang bergerak melewati 3 level Pivot sekaligus, kecuali pasar berada dalam kondisi ekstrem. Secara umum, pergerakan harga biasanya akan berhenti di suatu level Pivot sebelum melanjutkan ke level berikutnya. Jika sentimen pasar berubah, harga dapat segera berbalik arah. Dalam hal ini, sebaiknya gunakan stop loss.

 

Menggunakan Pivot Points sebagai Indikator Sentimen Pasar

Sentimen pasar dalam konteks ini dipahami sebagai kecenderungan pergerakan harga ke arah bullish atau bearish. Acuan umum yang digunakan adalah harga pembukaan dari sesi trading tersebut dan Pivot Point yang dihitung berdasarkan rentang harga dari hari sebelumnya.

Contohnya, jika dalam sesi Asia, harga pembukaan berada di atas Pivot Point, maka sentimen dalam sesi tersebut akan cenderung bullish. Namun, situasi dapat berubah dalam sesi berikutnya (seperti sesi Eropa) tergantung pada pergerakan harga saat itu dibandingkan dengan Pivot Point. Hal yang sama juga berlaku untuk sesi New York berikutnya.

Pivot Points 7

Dalam gambar di atas, dapat dilihat bahwa pergerakan harga menciptakan sebuah gap (loncatan harga) di atas level Pivot. Gap ini menunjukkan sentimen bullish yang cukup kuat. Setelah itu, pergerakan harga terus menembus level R1, R2, dan R3.

Pivot Points 8

Dalam contoh GBP/USD di atas, terjadi hal sebaliknya. Setelah menguji level Pivot, harga turun tajam (ditunjukkan oleh pola candlestick bearish full body yang lebih panjang) dan menembus S1 dan S2. Meskipun karakteristik pergerakan harga terhadap Pivot Points tidak selalu sama, sentimen pasar tetap cenderung bereaksi di sekitar level Pivot.

Pivot Points 9

Contoh di atas menunjukkan bahwa pergerakan harga cenderung bearish (1) dan mengalami penurunan dalam sesi Asia dan sementara menguji S1. Namun, dalam sesi Eropa, harga naik tajam hingga level R2. Saat itu, perhatikan pola bar ketika harga menembus level Pivot (3). Dapat dilihat bahwa harga penutupan (closing price) dari bar tersebut berada di atas Pivot.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Pivot Points adalah alat trading multifungsi dan memiliki tingkat keandalan yang tinggi dalam berbagai strategi yang berbeda. Namun, karena sistem ini agak kompleks dalam interpretasinya, sebaiknya pemula berlatih dan belajar cara menerapkannya di akun demo terlebih dahulu.

 

Tips saat menggunakan Pivot Points

Ada banyak fungsi yang dapat Anda manfaatkan dari Pivot Points untuk mendukung kebutuhan trading Anda. Berikut adalah beberapa tips saat menggunakan Pivot Points dalam trading Forex:

  1. Gunakan Pivot Points pada timeframe yang sesuai dengan strategi trading Anda, misalnya: Daily pivots untuk trading jangka pendek.
  2. Ketika pasar bergejolak lebih kuat, level pivot dapat diuji lebih sering, sehingga Anda perlu lebih berhati-hati saat menempatkan stop loss.
  3. Jika harga menembus suatu level resistance atau support, itu dapat menunjukkan kemungkinan terjadinya breakout.
  4. Gabungkan Pivot Points dengan indikator lain (misalnya: RSI atau MACD) untuk mengonfirmasi sinyal entry atau exit.
  5. Jika pasar sedang dalam tren (misalnya: uptrend atau downtrend), Pivot Points dapat digunakan untuk mencari pullback (penyesuaian harga) di level support atau resistance untuk masuk posisi (entry) sesuai tren.
  6. Perhatikan pergerakan harga saat mendekati Pivot Point (PP) utama. Jika harga mendekati PP dan bergerak searah dengan tren saat ini, ini bisa menjadi sinyal kelanjutan tren.
  7. Peningkatan volume di beberapa level pivot dapat membantu meningkatkan akurasi sinyal support atau resistance.

 

Kesimpulan

Pivot Points sangat berguna bagi trader yang melakukan trading jangka pendek atau trader harian (day trader) yang ingin memanfaatkan pergerakan harga yang relatif kecil. Sama seperti metode trading lainnya yang didasarkan pada level Support dan Resistance, trader dapat menerapkan konsep bounce dan breakout di level ini.

Dengan metode bounce, trader berusaha menentukan level pembalikan. Sementara itu, trader yang menyukai breakout akan menggunakan level SR sebagai acuan untuk melakukan break. Setelah itu, mereka akan membuka posisi buy atau sell dekat level-level ini.

Kembali Ke Daftar Artikel

Artikel Broker Terpopuler

lihat semua