Analisis Intermarket: Pendekatan Makro dalam Trading Forex

Tradesmart 23 Dec 2025 35 views

Analisis lintas pasar adalah salah satu metode analisis pergerakan harga yang didasarkan pada pemeriksaan hubungan dan interaksi antara empat kelompok aset keuangan besar yang terdiri dari: saham (Equities), obligasi (Bonds), komoditas (Commodities), dan mata uang (Forex).

Analisis antar pasar membantu trader Forex menilai dampak dari pasar lain terhadap pasar valuta asing. Trader forex profesional sering menerapkan metode analisis antar pasar untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan risiko akibat pengaruh dari fluktuasi pasar lain terhadap pasar Forex. Selain itu, trader forex juga dapat melakukan hedging terhadap posisi trading mereka dengan berpartisipasi di pasar yang memperdagangkan berbagai jenis aset keuangan lainnya.

Analisis antar pasar didasarkan pada asumsi bahwa pasar Forex tidak bergerak secara independen, tetapi selalu dipengaruhi oleh dampak dari dinamika ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan lainnya. Oleh karena itu, dengan mengamati fluktuasi harga di berbagai pasar, kita dapat memperoleh petunjuk penting tentang arah pergerakan pasangan mata uang tertentu.

Dalam praktiknya, analisis antar pasar dalam trading Forex dilakukan dengan mengikuti fluktuasi harga dari indeks saham, obligasi, dan komoditas utama di dunia. Dengan mengetahui pengaruh dari setiap jenis pasar terhadap pasar Forex, kita dapat memperoleh sinyal untuk memprediksi dengan lebih baik arah pergerakan pasangan mata uang tertentu.

Analisis Intermarket

 

Prinsip Dasar Analisis Antar Pasar

Dalam pasar keuangan global, terdapat empat kelompok instrumen yang saling mempengaruhi, yaitu indeks harga saham, harga obligasi dan imbal hasil obligasi (termasuk obligasi pemerintah dan obligasi perusahaan besar), harga komoditas utama di dunia, dan beberapa pasangan mata uang utama (terhadap USD) serta pasangan silang - cross currency. Harga obligasi dan imbal hasil obligasi digunakan untuk menilai fluktuasi tingkat suku bunga suatu negara.
Indeks harga saham digunakan untuk mencerminkan arah aliran modal dalam ekonomi global. Dalam kondisi normal, jika indeks harga saham suatu negara meningkat tajam, maka nilai mata uang negara tersebut juga akan menguat. Sebaliknya, jika indeks melemah, mata uang juga akan melemah. Harga komoditas utama di dunia digunakan untuk menilai tingkat inflasi, serta tingkat penawaran dan permintaan di beberapa negara penghasil dan pengimpor barang besar.

 

Hubungan Antara Saham dan Pasar Uang

Analisis antar pasar biasanya dimulai dengan indeks harga saham. Pasar saham dianggap sebagai acuan utama dari seluruh pasar keuangan, sementara indeks harga saham ini mewakili tingkat harga dari saham blue-chip terbesar di suatu negara.

Ketika ingin membeli saham dari suatu negara, kita harus menggunakan mata uang dari negara tersebut. Contoh: untuk berinvestasi di saham besar Jepang, investor dari Eropa harus menukar Euro (EUR) menjadi yen Jepang (JPY). Permintaan yang meningkat terhadap yen Jepang menyebabkan nilai JPY menguat. Sebaliknya, penjualan Euro akan meningkatkan pasokan Euro, menyebabkan nilai Euro menurun.

Jika prospek pasar saham suatu negara baik, maka aliran modal besar secara internasional akan mengalir ke negara tersebut dan membuat mata uang domestiknya menguat. Sebaliknya, jika pasar saham memburuk, investor akan menarik modal dan beralih ke negara lain yang memiliki prospek pertumbuhan lebih baik, menyebabkan mata uang domestik negara tersebut melemah.

Perekonomian Global Normal

Sebagai trader di pasar Forex, Anda juga sebaiknya mengikuti kondisi pasar saham di beberapa ekonomi besar di dunia. Aliran modal akan mengalir dari negara dengan indeks saham yang melemah ke negara dengan indeks saham yang menguat. Ini karena indeks saham yang meningkat akan diikuti oleh mata uang yang lebih kuat, dan sebaliknya. Ini berarti, jika Anda membeli (buy) mata uang dari negara dengan prospek pasar saham yang baik dan menjual (sell) mata uang dari negara dengan pasar saham yang melemah, Anda biasanya memiliki keuntungan alami untuk meraih profit.

Namun, kondisi seperti itu hanya dapat terjadi dalam lingkungan ekonomi global yang stabil. Jika ekonomi global sedang dalam krisis atau resesi, situasi sebaliknya dapat terjadi.

Contoh, mengamati hubungan antara indeks Nikkei dan USD/JPY (grafik di bawah ini).

Nikkei vs USDJPY

Sebelum resesi ekonomi global yang dimulai pada tahun 2007, indeks Nikkei dan JPY bergerak searah naik sementara USD/JPY justru turun, atau dengan kata lain, Nikkei dan USD/JPY bergerak berlawanan arah (korelasi negatif). Oleh karena itu, jika Nikkei naik, maka JPY juga naik (USD/JPY turun). Namun, setelah krisis keuangan dan resesi ekonomi global pasca krisis 2008, korelasi antara Nikkei dan USD/JPY beralih menjadi positif, yang berarti jika Nikkei naik, maka USD/JPY juga naik dan JPY akan melemah.

Ketika pasar saham suatu negara yang diwakili oleh indeks sahamnya meningkat, kepercayaan investor asing terhadap negara tersebut juga meningkat, yang menyebabkan aliran investasi asing mengalir masuk dan ini meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik, membuatnya menguat. Sebaliknya, ketika harga saham domestik mulai turun, kepercayaan investor asing menurun, menyebabkan mereka menarik modal dan menukar mata uang domestik dengan mata uang asal mereka. Akibatnya, nilai mata uang domestik melemah. Fenomena ini dapat terlihat jelas dalam dinamika ekonomi pasar di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.

Ketika terjadi fluktuasi besar dalam pasar keuangan, pasar pertama yang terpengaruh adalah pasar saham, diikuti oleh pasar obligasi dan nilai tukar mata uang. Selain itu, pasar saham global cenderung bergerak searah (korelasi positif). Ketika krisis ekonomi global terjadi, sebagian besar harga saham di banyak negara akan turun tajam.

Contoh, lihat hubungan antara indeks Dow Jones (AS) dan indeks Nikkei (Jepang).

Img 4

Indeks harga saham besar di dunia perlu diikuti sebagai indikator utama dalam analisis antar pasar, yang meliputi:

  • DJIA atau Dow Jones (Dow Jones Industrial Average) – Amerika Serikat
  • S&P 500 (Standard & Poor 500) – Amerika Serikat
  • NASDAQ (National Association of Securities Dealers Automated Quotations) – Amerika Serikat
  • Nikkei 225 – Jepang
  • DAX (Deutscher Aktien Index) – Jerman
  • Euro Stoxx 50 (Dow Jones Euro Stoxx 50) – Zona Euro
  • FTSE 100 – Inggris
  • Hang Seng – Hong Kong

 

Hubungan Antara Imbal Hasil Obligasi dan Nilai Tukar Mata Uang

Saat ini, pasar obligasi adalah salah satu komponen inti dari sistem keuangan global, sehingga menjadikannya salah satu fokus utama bagi trader Forex dalam analisis antar pasar. Obligasi adalah bukti bahwa seorang investor telah setuju untuk memberikan pinjaman tertentu kepada pemerintah suatu negara (untuk obligasi pemerintah) atau suatu entitas yang bersifat hukum (untuk obligasi perusahaan atau organisasi bisnis), dengan jangka waktu jatuh tempo dan tingkat bunga yang ditentukan oleh penerbit. Dalam hal ini, investor adalah pembeli obligasi dan akan menerima kembali pokoknya saat jatuh tempo.

Jangka waktu obligasi dapat berkisar dari beberapa bulan hingga lebih dari 50 tahun. Pembayaran bunga dapat dilakukan dalam interval tertentu sesuai dengan ketentuan (misalnya: satu atau dua kali setahun). Jumlah bunga yang dibayarkan kepada investor adalah imbal hasil obligasi dari investor, yang disebut bond yield. Karena obligasi biasanya diperdagangkan di pasar sekunder, harga dan imbal hasil (yield) mereka dapat selalu berfluktuasi.

Fluktuasi imbal hasil obligasi (bond yield) bergerak seiring dengan fluktuasi suku bunga bank sentral. Jika suku bunga bank sentral naik, bond yield akan naik; dan sebaliknya jika suku bunga turun maka bond yield akan turun. Selain itu, jika bond yield naik, maka harga obligasi akan turun seperti yang diilustrasikan di bawah ini (ini hanya simulasi - kenyataannya bisa berbeda).

Yield Obligasi

Obligasi pemerintah sering dianggap sebagai instrumen investasi yang paling aman. Satu-satunya hal yang dapat menyebabkan kerugian saat berinvestasi di obligasi pemerintah adalah jika pemerintah negara tersebut kehilangan kemampuan untuk membayar yang akan mengakibatkan default (gagal bayar). Untuk negara besar seperti Amerika Serikat, Jerman, atau Jepang, kemungkinan ini sangat rendah. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah juga digunakan sebagai alat untuk memprediksi arah kebijakan suku bunga bank sentral di negara tersebut.

Imbal hasil obligasi dapat digunakan sebagai indikator untuk pasar modal. Imbal hasil obligasi Amerika Serikat mencerminkan kondisi pasar modal Amerika Serikat, yang pada gilirannya juga mencerminkan permintaan terhadap dolar AS (USD). Sementara itu, suku bunga bank menggambarkan tingkat inflasi. Jika suku bunga bank naik, maka imbal hasil obligasi juga akan naik dan harga obligasi akan turun. Kenaikan suku bunga bank akan membuat nilai tukar mata uang negara tersebut menjadi lebih kuat.

Oleh karena itu, kenaikan imbal hasil obligasi atau penurunan harga obligasi akan menyebabkan kenaikan nilai tukar. Situasi ini dapat terjadi dalam kondisi ekonomi yang mengalami inflasi positif. Dalam konteks ekonomi yang mengalami resesi, akan ada pergeseran atau perubahan dalam hubungan antara parameter yang disebutkan di atas.

Perekonomian Negara Global

 

Spread Imbal Hasil Obligasi Antara Negara

Bond spread (spread imbal hasil obligasi) adalah selisih imbal hasil obligasi antara dua negara. Selisih ini dapat mendorong investor untuk terlibat dalam strategi carry trade. Oleh karena itu, dengan selalu mengikuti bond spreads dan perubahan suku bunga, kita dapat memprediksi arah pergerakan pasangan mata uang. Ketika bond spread antara dua negara melebar, mata uang negara dengan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi cenderung menguat dibandingkan mata uang negara dengan imbal hasil obligasi yang lebih rendah.

Contoh, di bawah ini adalah spread (selisih imbal hasil) antara obligasi pemerintah yang diterbitkan oleh Australia dan Amerika Serikat, masing-masing dengan jangka waktu 10 tahun, dan bersamaan dengan nilai tukar AUD/USD:

Img 7

Ketika bond spread meningkat dari 0.5% menjadi 1% (periode dari tahun 2002 - 2004), AUD/USD meningkat hampir 50%, dari level 0.5000 menjadi 0.7000. Pada tahun 2007, ketika bond spread terus meningkat dari 1% menjadi 2.5%, AUD/USD meningkat dari 0.7000 menjadi sekitar 0.9000, setara dengan sekitar 2000 pips.

 

Hubungan Antara Komoditas Utama dan Mata Uang

Komoditas utama di seluruh dunia selalu mempengaruhi langsung nilai tukar dan yang paling penting dalam konteks analisis antar pasar (intermarket analysis) terdiri dari dua jenis komoditas yaitu emas (gold) dan minyak mentah (crude oil). Seperti yang telah disebutkan dalam artikel yang membahas tentang mata uang komoditas (commodity currencies), dolar Australia (AUD) adalah mata uang yang memiliki korelasi terkuat dengan harga emas global. Sejarah menunjukkan bahwa AUD/USD memiliki korelasi positif 80% dengan emas, seperti yang diilustrasikan di bawah ini:

Emas vs AUD/USD

Pasangan mata uang utama lainnya yang memiliki korelasi dengan emas adalah dolar AS terhadap franc Swiss (USD/CHF). Meskipun tidak seperti Australia yang merupakan negara penghasil emas terbesar kedua di dunia, tetapi korelasi antara nilai tukar franc Swiss dan harga emas memiliki hubungan yang cukup erat, karena lebih dari 25% jumlah franc Swiss yang beredar dijamin oleh cadangan emas negara ini. Oleh karena itu, CHF memiliki korelasi positif dengan emas, yang berarti USD/CHF memiliki korelasi negatif dengan emas.

Emas Vs USD/CHF

Di sisi lain, harga emas dan dolar AS biasanya memiliki kecenderungan untuk berkorelasi negatif. Umumnya, ketika ekonomi global tumbuh, investor cenderung membeli dolar AS dan menjual emas; atau sebaliknya.

Minyak mentah, yang sering disebut sebagai “emas hitam”, adalah salah satu komoditas utama dalam ekonomi global dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap pasar keuangan dunia. Semua sumber energi yang digunakan dalam industri di negara-negara besar di dunia sangat bergantung pada minyak. Oleh karena itu, fluktuasi harga minyak akan mempengaruhi variabel biaya produksi, biaya transportasi, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi output yang mendukung pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut. Karena harga minyak global dinyatakan dalam dolar AS, maka setiap fluktuasi dolar AS juga akan mempengaruhi langsung harga minyak global.

Sementara itu, USD/CAD adalah pasangan mata uang yang memiliki korelasi terkuat dengan harga minyak mentah global. Nilai tukar CAD (dolar Kanada) memiliki korelasi positif dengan harga minyak. Artinya, jika harga minyak naik, CAD akan menguat dan USD/CAD akan turun, sebaliknya jika harga minyak turun maka CAD akan melemah dan USD/CAD akan naik. Di bawah ini adalah hubungan antara harga minyak mentah global dan USD/CAD selama periode dari tahun 2000 - 2011:

USD/CAD vs Minyak

 

Kesimpulan tentang Analisis Antar Pasar

Dari beberapa analisis sebelumnya, sebagai dasar untuk analisis antar pasar (intermarket analysis) dalam trading Forex, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Selalu ada korelasi positif antara pasar saham global, sehingga jika indeks Dow Jones turun, maka indeks Nikkei juga berpotensi turun. Sebaliknya, juga ada korelasi positif antara indeks saham dan nilai tukar mata uang suatu negara. Misalnya: jika indeks Nikkei (indeks saham Jepang) melemah, maka USD/JPY juga cenderung turun (artinya JPY menguat), dan sebaliknya.

  • Ada korelasi positif antara pasar saham, pasar obligasi, dan nilai tukar mata uang suatu negara. Kenaikan indeks saham dan imbal hasil obligasi menunjukkan prospek imbal hasil yang lebih baik, hal ini akan menarik investor asing, sehingga permintaan terhadap mata uang domestik meningkat.

  • Jika spread imbal hasil obligasi antara dua negara melebar, maka mata uang negara dengan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi akan menguat dibandingkan mata uang negara dengan imbal hasil obligasi yang lebih rendah.

  • Jika harga emas naik, maka dolar AS (USD) cenderung melemah, maka AUD/USD dan NZD/USD akan naik (di luar korelasi positif antara AUD dan NZD, karena Selandia Baru juga merupakan negara penghasil emas), sementara USD/CHF turun. Jika harga emas naik, maka EUR/USD juga cenderung naik. Emas dan euro sering dipahami sebagai “Anti-Dollar” (aset yang bergerak berlawanan dengan pergerakan dolar AS).

  • Fluktuasi dolar AS mempengaruhi harga minyak mentah. Jika harga minyak mentah global naik, maka USD/CAD biasanya akan turun.

Jika untuk ilustrasi, maka di bawah ini adalah ringkasan yang lebih mudah dipahami tentang analisis antar pasar (intermarket analysis):

Infografis

Hubungan-hubungan ini dapat terlihat melalui analisis antar pasar, yang muncul dalam pergerakan harga jangka panjang, dan inilah yang membuatnya berguna sebagai faktor referensi tambahan saat trading Forex dan membantu memberikan konteks saat menganalisis dinamika pasar. Namun, korelasi positif dan negatif dalam analisis antar pasar (intermarket analysis) tidak bersifat mutlak, tetapi dapat berubah tergantung pada kondisi ekonomi yang stabil atau sedang dalam masa krisis.

Selain digunakan untuk analisis, trading antar pasar (intermarket trading) juga dapat dilakukan di broker Forex karena mereka sering menyediakan berbagai instrumen dan portofolio trading yang sangat beragam.

Kembali Ke Daftar Artikel

Artikel Broker Terpopuler

lihat semua