Isyarat Intervensi AS-Jepang Makin Kencang, USD/JPY Melemah Tajam
Pasar valuta asing kembali diguncang oleh kekhawatiran akan potensi intervensi terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Jepang. Isyarat tersebut memicu aksi penutupan posisi jual Yen dalam skala masif sehingga USD/JPY turun tajam.
Pasangan mata uang USD/JPY anjlok lebih dari 1% pada perdagangan Jumat lalu, lalu melanjutkan pelemahan pada pembukaan pasar awal pekan ini. Dalam sesi Asia Senin (26 Januari), USD/JPY bertahan di sekitar 154.00 — level terendah dalam dua bulan terakhir.
![]()
Pemicu utama gejolak ini datang dari laporan Reuters yang menyebut Federal Reserve Bank of New York melakukan rate check terhadap USD/JPY. Langkah tersebut berarti otoritas menanyakan kepada dealer kurs yang tersedia jika mereka masuk langsung ke pasar — sebuah sinyal yang kerap dibaca sebagai tahap awal menuju kemungkinan intervensi.
Analis menilai tindakan itu menunjukkan bahwa otoritas moneter AS dan Jepang tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap pergerakan nilai tukar yang dinilai berlebihan. Walau jarang dilakukan, mekanisme ini bukan hal baru. Sebelumnya, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama juga telah membuka kemungkinan intervensi bersama Washington bila volatilitas Yen tak terkendali.
Efeknya langsung terasa luas. Dolar AS tertekan, sementara Yen menguat tidak hanya terhadap greenback, tetapi juga di berbagai pasangan mayor dan minor lainnya. Beberapa pelaku pasar bahkan berspekulasi bahwa salah satu otoritas mungkin telah melakukan aksi tersembunyi di pasar, meski belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi hal tersebut.
Tekanan bertambah setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada hari Minggu menegaskan bahwa pemerintahnya siap mengambil langkah tegas terhadap aktivitas pasar yang bersifat spekulatif. Pernyataan ini semakin mendorong trader untuk mengurangi eksposur posisi jual Yen.
Michael Brown, analis strategi riset senior dari Pepperstone, mengatakan kepada Reuters bahwa rate check biasanya menjadi "peringatan terakhir" sebelum intervensi benar-benar terjadi. Ia menambahkan bahwa pemerintahan Takaichi tampaknya memiliki toleransi lebih rendah terhadap pergerakan forex yang bersifat spekulatif dibandingkan pemerintahan sebelumnya.
"Profil risk-reward kini berubah drastis. Posisi jual Yen yang sebelumnya menguntungkan kini menjadi sangat berisiko, karena tak ada yang ingin terjebak kerugian besar jika Kementerian Keuangan Jepang atau perwakilannya benar-benar masuk ke pasar," ujar Brown.