Isu Pemilu Dini Memicu Penguatan Pesat USD/JPY

Tatiana Park 13 Jan 2026 14 views

Dinamika politik Jepang kembali menjadi sorotan pasar. Sinyal pembubaran parlemen oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi memicu kekhawatiran investor, sehingga mendorong pelemahan tajam Yen dan mengangkat USD/JPY ke level tertinggi beberapa bulan terakhir.

Pada perdagangan sesi Asia hari Selasa (13 Januari), pasangan USD/JPY melesat kuat, mencatatkan posisi tertinggi sejak Juli 2024 di kisaran 158.88. Tekanan terhadap Yen juga terlihat pada pasangan cross EUR/JPY dan GBP/JPY yang masing-masing mencetak rekor level tertinggi baru.

USDJPY Menguat

Dorongan volatilitas ini muncul setelah pimpinan Japan Innovation Party (JIP), Hirofumi Yoshimura, mengungkapkan  bahwa PM Takaichi tengah mempertimbangkan opsi pemilu dini. Yoshimura menyebut telah membahas wacana tersebut langsung dengan Takaichi pada pertemuan pekan lalu.

Laporan kantor berita Kyodo pada Selasa pagi memperkuat spekulasi tersebut. Disebutkan bahwa Takaichi telah menyampaikan niatnya kepada petinggi Partai Demokrat Liberal (LDP) untuk membubarkan majelis rendah pada awal masa sidang reguler parlemen. Sesuai agenda, sidang reguler itu dijadwalkan dimulai pada 23 Januari.

Sebagai informasi, parlemen Jepang menganut sistem bikameral yang terdiri dari majelis rendah (shugiin) dan majelis tinggi (sangiin). Di antara keduanya, majelis rendah memiliki posisi dominan, terutama dalam pengesahan anggaran, perjanjian internasional, serta penentuan perdana menteri. Majelis ini juga memiliki kewenangan untuk mengesampingkan veto majelis tinggi atas sebagian besar rancangan undang-undang.

Jika pembubaran majelis rendah benar-benar terjadi, Jepang akan menghadapi pemilu dini pada Februari mendatang. Dari sisi politik, langkah ini dinilai sebagai strategi Takaichi untuk memperkuat basis kekuasaan dan memperlancar agenda pemerintahannya. Namun bagi pasar keuangan, ketidakpastian politik justru menjadi faktor risiko yang tidak diinginkan.

Kondisi ini menempatkan Yen dalam dilema. Apabila Takaichi berhasil memperbesar perolehan kursi koalisinya, ia bisa semakin leluasa menekan Bank of Japan (BoJ) agar menunda normalisasi suku bunga Sebaliknya, jika ia gagal memenangkan dukungan publik, Jepang berpotensi menghadapi instabilitas politik berkepanjangan. Kedua skenario tersebut dinilai sama-sama negatif bagi prospek Yen.

Carol Kong, analis strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia, mengungkapkan bahwa pasar tampaknya lebih memperhitungkan kemungkinan koalisi Takaichi memperoleh lebih banyak kursi di majelis rendah. Hal ini akan meningkatkan kemampuan sang Perdana Menteri untuk melonggarkan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Spekulasi inilah yang menjadi faktor utama pelemahan Yen dalam jangka pendek.

Kembali Ke List Berita

Berita Broker Terpopuler

lihat semua