BoJ Naikkan Bunga Tanpa Sinyal Lanjutan, USD/JPY Meningkat
Langkah Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga acuan belum mampu menopang nilai tukar Yen. Minimnya sinyal lanjutan terkait arah kebijakan moneter justru memicu aksi ambil untung yang mendorong penguatan tajam dalam USD/JPY.
Pada Kamis (12/Desember), BoJ resmi menaikkan suku bunga sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, alih-alih menguat, Yen tertekan signifikan. Pasangan USD/JPY melonjak lebih dari 1% hingga menyentuh level tertinggi dalam satu bulan di sekitar 157.40. Pelemahan Yen juga terjadi terhadap Euro, Poundsterling, serta sejumlah mata uang utama lainnya.
![]()
Kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dari 0.50% menjadi 0.75% telah sepenuhnya diantisipasi oleh pelaku pasar. Ekspektasi yang telah terbentuk jauh hari tersebut membuat pengumuman BoJ memicu pola klasik "buy the rumour, sell the fact", sehingga mata uang Jepang justru menjadi sasaran jual.
Tekanan terhadap Yen semakin kuat setelah Gubernur BoJ Kazuo Ueda menyampaikan pernyataan dalam konferensi pers. Ia tidak memberikan panduan yang jelas terkait waktu maupun laju kenaikan suku bunga pada tahun depan, sebuah sikap yang dinilai pasar terlalu berhati-hati.
Nada serupa juga tercermin dalam pernyataan resmi hasil rapat kebijakan BoJ. Bank sentral tetap mempertahankan proyeksi bahwa inflasi inti baru akan mendekati target 2% pada rentang akhir tahun fiskal 2026 hingga 2027. BoJ mengakui tingkat suku bunga riil masih sangat rendah, namun menegaskan pengetatan lanjutan hanya akan dilakukan jika kondisi ekonomi dan inflasi berkembang sesuai perkiraan.
Bart Wakabayashi dari State Street Tokyo menilai reaksi pasar mencerminkan keraguan terhadap langkah BoJ berikutnya. Menurutnya, bank sentral Jepang belum sepenuhnya yakin untuk melanjutkan kenaikan suku bunga secara agresif. Ia menambahkan bahwa pasar melihat kisaran 1% hingga 1.25% sebagai level suku bunga netral, meski pencapaiannya tampak tidak mudah bagi BoJ.
Sikap hati-hati tersebut bertolak belakang dengan ekspektasi sebagian pelaku pasar yang menantikan sinyal kebijakan lebih hawkish. Ketiadaan petunjuk tersebut pada akhirnya kembali membebani prospek Yen di pasar valuta asing.