Harapan Perdamaian Menguat, Dolar AS Melemah
Optimisme atas potensi berakhirnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong pelaku pasar mengubah posisi mereka, sehingga menekan pergerakan Dolar AS dalam beberapa sesi terakhir.
Indeks Dolar AS (DXY) mengalami penurunan dalam dua hari terakhir dan berada di kisaran 99.40 pada hari Rabu (1 April). Pelemahan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang membuka peluang berakhirnya konflik militer dengan Iran dalam waktu dekat.
![]()
Laporan dari The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa Trump telah menyampaikan kepada para penasihatnya mengenai kesiapan untuk menghentikan operasi militer terhadap Iran, meskipun Selat Hormuz masih berada dalam kondisi terblokir.
Sehari kemudian, dalam keterangannya kepada media di Gedung Putih, Trump menyebut bahwa penghentian kampanye militer bisa terjadi dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak perlu menandatangani kesepakatan formal selama negara tersebut tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Pernyataan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap meredanya konflik, sehingga mendorong pergeseran posisi di berbagai pasangan mata uang. USD/JPY mengalami penurunan dari atas 160.00 ke sekitar 158.00. Sementara itu, EUR/USD, GBP/USD, dan AUD/USD mencatat penguatan yang cukup signifikan.
Kirstine Kundby-Nielsen, analis valuta asing dari Danske Bank, menyatakan bahwa pasar semakin yakin terhadap kemungkinan deeskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Ia menambahkan sentimen positif ini turut tercermin dalam ekspektasi penurunan suku bunga, kenaikan pasar saham, serta pergerakan nilai tukar euro terhadap dolar.
Meski demikian, risiko eskalasi tetap membayangi. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memperingatkan bahwa konflik dapat meningkat apabila Iran tidak menunjukkan kemajuan menuju kesepakatan. Di sisi lain, Israel dilaporkan masih melanjutkan serangan ke wilayah Iran dan Lebanon.
Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan situasi geopolitik tersebut. Selain itu, perhatian juga tertuju pada rilis data ekonomi AS pekan ini.
Setelah data Nonfarm Payroll bulan sebelumnya tercatat minus 92.000, konsensus pasar memperkirakan adanya pemulihan hingga sekitar +60.000 pada periode berikutnya. Jika hasil yang dirilis lebih rendah dari perkiraan, hal ini dapat kembali memicu spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed dan berpotensi menekan Dolar AS lebih lanjut.