Utang Inggris Membengkak, Penguatan Pounds Tak Bertahan Lama

Tatiana Park 23 Mar 2026 25 views

Pound Sterling kembali kehilangan tenaga setelah sempat menguat pasca keputusan bank sentral. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Inggris kini menjadi faktor utama yang menekan pergerakan GBP/USD.

Pada perdagangan Kamis lalu, Sterling sempat mencatat penguatan signifikan menyusul pengumuman kebijakan bank sentral Inggris. Pasangan GBP/USD melonjak lebih dari 1.3% hingga menembus level 1.3450, sementara EUR/GBP turun mendekati titik terendahnya sepanjang tahun ini.

Namun, momentum positif tersebut tidak bertahan lama. Rilis data utang pemerintah Inggris pada hari Jumat langsung memicu tekanan baru terhadap Pound Sterling. Hingga sesi Asia hari Senin (23/Maret), GBP/USD masih bergerak lemah di kisaran 1.3320.

Pounds melemah

Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) melaporkan bahwa pemerintah mencatat defisit sebesar £14.3 miliar pada Februari 2026. Padahal, anggaran sempat mencatat surplus £30.4 miliar pada Januari silam. Angka defisit tersebut juga jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya sebesar £8.8 miliar.

Lonjakan beban utang semakin terlihat dari meningkatnya pembayaran bunga. Pada Februari 2026, biaya bunga utang mencapai £13 miliar—melonjak tajam dari £5.5 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini sejalan dengan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun ke level tertinggi dalam 18 tahun, atau sejak krisis keuangan global 2008.

ONS juga memperkirakan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) Inggris telah mencapai 93.1% pada akhir Februari 2026, mendekati level tertinggi sejak awal 1960-an.

Tekanan terhadap fiskal Inggris berpotensi semakin besar seiring lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak dan gas diperkirakan akan membebani sektor rumah tangga dan korporasi, sementara kemampuan pemerintah untuk memberikan subsidi dinilai terbatas di tengah pelebaran defisit.

Ruth Gregory, wakil kepala ekonom Inggris di Capital Economics, menilai ruang fiskal pemerintah saat ini sangat sempit. Ia meragukan adanya paket stimulus besar seperti yang pernah dilakukan pada 2022, sekalipun konflik geopolitik terus memburuk nantinya.

Kembali Ke List Berita

Berita Broker Terpopuler

lihat semua