Ketegangan Hormuz Picu Risk-Off, Dolar AS Kembali Menguat
Dolar AS kembali naik seiring meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off) akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Selain faktor geopolitik, sejumlah indikator ekonomi dari AS turut memberikan dorongan tambahan.
Indeks Dolar AS (DXY) sempat menanjak hingga menyentuh level tertinggi dalam delapan hari di kisaran 98.80, dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar. Memasuki sesi New York pada hari Rabu (23 April), dolar masih mempertahankan tren penguatan meski sedikit terkoreksi di time frame rendah.
![]()
Situasi memanas setelah negosiasi AS dan Iran tidak menghasilkan kesepakatan. Iran kemudian memperketat blokade di Selat Hormuz dan menegaskan tidak akan membuka kembali jalur tersebut sebelum Amerika Serikat mencabut pembatasan terhadap kapal-kapalnya.
Ketegangan semakin meningkat dengan aksi saling penyitaan kapal oleh kedua pihak di perairan internasional. Kondisi ini mendorong harga minyak Brent kembali melonjak ke atas $100 per barel, sekaligus meningkatkan daya tarik dolar AS sebagai aset safe haven.
Steve Englander dari Standard Chartered Bank New York menilai pasar masih diliputi ketidakpastian. Ia menyebut pelaku pasar belum memiliki keyakinan penuh apakah potensi gencatan senjata akan bertahan atau justru gagal, sehingga arah pergerakan selanjutnya masih sulit diprediksi. Fokus utama saat ini adalah kemungkinan berlanjutnya aksi militer.
Divergensi Suku Bunga Masih Mendukung Dolar
Selain faktor eksternal, dolar AS juga ditopang oleh perkembangan ekonomi domestik. Pernyataan terbaru dari kandidat Ketua The Fed serta data klaim pengangguran yang dirilis hari ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga Fed akan tetap stabil hingga akhir tahun, dengan peluang penurunan baru terbuka pada tahun depan.
Di sisi lain, prospek kebijakan moneter di negara lain dinilai kurang solid. Bank sentral Eropa masih ragu menaikkan suku bunga meskipun inflasi meningkat, sementara Inggris menghadapi ancaman stagflasi akibat lonjakan harga energi. Jepang pun berada dalam posisi sulit karena tekanan politik terhadap kebijakan kenaikan suku bunga.