Harga Minyak Tinggi Tak Lagi Menguatkan Dolar AS
Lonjakan harga minyak yang sebelumnya menjadi faktor pendukung bagi penguatan Dolar AS kini mulai menunjukkan dampak sebaliknya. Analis dari Barclays menilai dinamika pasar energi telah berubah dan berpotensi menjadi beban bagi mata uang tersebut.
Pada fase awal konflik Iran, harga minyak mentah dan dolar AS cenderung bergerak searah. Eskalasi ketegangan mendorong keduanya naik, sementara sinyal perdamaian membuat keduanya melemah. Namun, pola tersebut mulai bergeser dalam beberapa waktu terakhir.
![]()
Harga minyak mentah jenis Brent Crude Oil saat ini masih bertahan di kisaran tinggi, sekitar $90–$100 per barel. Di sisi lain, US Dollar Index (DXY) justru turun kembali mendekati level sebelum konflik berlangsung.
Dalam laporan riset terbarunya, Barclays mengungkapkan bahwa adanya indikasi menuju stabilitas geopolitik baru di Timur Tengah telah mengubah peran harga energi. Jika sebelumnya menjadi katalis positif, kini justru berpotensi menjadi penghambat bagi dolar AS. Mereka juga mencatat bahwa sejak awal April, setiap penurunan harga minyak sebesar 10% diikuti oleh pelemahan indeks dolar sekitar 1%, mencerminkan sensitivitas yang semakin tinggi terhadap pergerakan energi.
Menurut Barclays, perubahan perilaku ini kemungkinan dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah posisi beli (long) dolar AS yang sudah terlalu padat berdasarkan indikator sentimen pasar. Selain itu, pelaku pasar valuta asing mulai memperkirakan adanya normalisasi harga energi ke depan. Faktor lain yang turut berperan adalah meningkatnya premi risiko terhadap dolar AS.
Dengan kondisi tersebut, Barclays memperkirakan tekanan terhadap dolar AS masih berlanjut dalam jangka pendek. Potensi stabilisasi geopolitik serta pergeseran perhatian pasar ke isu domestik Amerika Serikat—termasuk pergantian ketua bank sentral—dipandang dapat semakin membatasi penguatan greenback.
Kekhawatiran juga datang dari dampak harga minyak tinggi terhadap ekonomi AS. Analis di Goldman Sachs memperkirakan bahwa lonjakan harga energi yang berkepanjangan bisa mengurangi sekitar 10,000 lapangan kerja per bulan dan mendorong tingkat pengangguran hingga 4.6% pada akhir tahun.